Ibarat di dunia ekonomi, demand rakyat Jakarta terhadap ketersediaan jalan terus meningkat, sedangkan supply jalannya sendiri jumlahnya segitu-segitu juga. Solusi pemerintah kota Jakarta, seperti kita tahu sendiri di berita-berita, adalah pembangunan flyover, penambahan lajur busway, dan mungkin nanti juga ada subway, dan seterusnya.

Dengan kata lain, untuk mengatasi demand yang berlebih, supply harus ditambah.

Maka jangan kaget kalau beberapa tahun lagi Jakarta justru akan jauh lebih macet dari sekarang.

Pernah tahu Parkinson’s Law?

“The demand upon a resource always expands to match the supply of the resource.” (source)

Apa artinya ini?

Jadi, begitu nanti jalan-jalan sudah agak lowong karena adanya alternatif baru tadi, orang-orang Jakarta justru bakal berpikir, “jalanan udah enak ‘nih, kayanya enak nih jalan-jalan pake mobil baru.” Multiply this by a hundred, a thousand people, and bam! Jalanan pun lebih macet lagi dari sekarang. Alternatif transportasi yang digembar-gemborkan ternyata keok.

Perkaranya ini sebenarnya karena semua bukan sekedar textbook problem soal supply and demand. Parkinson’s Law sejatinya berbicara tentang behavior manusia. Kalau melihat sesuatu yang luang, ya diisi. Berulang begitu terus. Makin diperluas, makin diisi. Terlebih tahu sendiri iklan mobil jor-joran di TV dan di jalan-jalan.

Ide Gila untuk mengatasi perkara ini adalah dengan mengurangi jumlah pemakai jalan. Titik.

Pertama-tama kamu harus tau bahwa Jakartamu itu bukan ruang yang infinite. Akan ada waktunya di mana kamu harus menyadari suatu titik di mana sudah ada terlalu pemakan ruang di Jakarta. Manusia, bangunan, tempat sampah, jalan tol. Sayangnya, waktu itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu. Dan kamu membiarkan saja semua itu karena matamu sudah silau oleh duit, duit duit.

Sekarang satu-satunya jalan yang logis cuma dengan mengurangi jumlah penduduk. Entah bagaimana caramu, itu bukan urusan blog ini. Oh, bisa jadi bakal ada riot. Bakal ada kerusuhan, ketidakpuasan. But something’s gotta give. Dan untuk kesalahanmu di waktu lalu memang harus ada yang kaubayar, sebentar lagi.

Oh ya. Sebentar lagi.

Tulis sebuah Komentar

*
*