Bayangkan kamu seorang aktivis lingkungan hidup. Apa yang bisa kamu lakukan untuk menyadarkan orang akan pentingnya menjaga lingkungan?
Kalau yang terpikir di otakmu adalah dengan membuat globe raksasa, please, silahkan cek kesehatan mental lagi. Maksud saya, emang ada gitu orang yang bakal berpikir, “Woooow, bola yang besar sekali! Mulai saat ini aku tidak boleh membuang sampah sembarangan! Aku harus menjaga kelestarian alam!”
Sungguh sayang bahwa ini benar-benar terjadi. Mengenai pembuatan bola itu, alasan yang dikemukakan adalah:
“Untuk membuat orang sadar tentang isu lingkungan,” kata Ahmad yang juga Ketua Pusat Informasi Pencemaran Limbah Indonesia. (sumber)
Oh so smart. Andai saja semua berhenti sampai di situ. Bayangkan percakapan berikut:
Aktivis 1: Hei, rasa-rasana bola raksasa kita tidak cukup menggugah masyarakat! Buktinya mereka masih juga mencemari lingkungan, pemanasan global terus bertambah, dan sebagainya. Apa bola kita kurang besar, ya?
Aktivis 2: Bisa jadi begitu. Atau mungkin kita butuh ide yang lebih cemerlang lagi… Ide yang lebih ekstrim…
Aktivis 1: Aku tahu, aku tahu! Sekarang kan Jakarta sedang musim macet di mana-mana. ‘Gimana kalau kita gelindingin bola itu di tengah salah satu jalan paling macet di Jakarta?
Aktivis 2: Ohh…ohh… di Jalan Sudirman! Ide cemerlang! Kamu jenius!!!!
…
Seriously, Green Club. I’m all for preserving the nature, man. Tapi kegiatan kalian itu goblok. Banget.
Coba bayangin kalian berada di dalam salah satu dari berapa puluh atau ratus kendaraan yang terjebak macet gara-gara bola goblok kalian. Yang manakah yang akan kalian pikirkan:
a) “Cuaca sedang panas, hari sedang macet-macetnya… pengen mati aja rasanya. Aah, tapi lihat itu, ada bola raksasa digelindingin di tengah jalan. That is so beautiful, I can die happy.”
b) “Ooooh, andai gue bawa misil buat nembak tuh bola keparat. Sapa seh yang bikin acara kayak gini! Ini bukan jalan bapak moyang loe, geblek! Owh, mereka ngasih selebaran. Green Club. Hmm, gue bakal inget-inget alamat lu kalo suatu hari nanti gue dapet misilnya.”
Kalau kalian pikir jawabannya A, tolong kalian cari jembatan yang tinggi terus lompat dari situ, deh.
Jujur saya setuju dan mendukung niat kalian mengkampanyekan rasa cinta lingkungan. Tapi cara kalian itu benar-benar bego. Parah. Bunuh diri. Nilai kalian justru HANCUR LEBUR di mata orang-orang yang terjebak kemacetan kalian, orang-orang yang tadinya jadi sasaran kampanye kalian.
Penanggung Jawab Green Club Ahmad Safrudin berkilah bahwa aksi mereka tidak mengganggu pengguna jalan. “Kami sudah mengatur waktu agar tidak mengakibatkan kemacetan,” tegasnya. (Sumber)
Kalian baca itu? Berkilah. It’s a negative word. As in “Roy Marten berkilah bahwa dia di ruang hotel itu hanya untuk reuni dengan teman lamanya.” Sudah buruk di mata masyarakat, kalian juga dapet bad press dari koran lokal. Selamat, ya.
This is a totally wrong move, dudes. Selamat bersenang-senang mencoba memperbaiki nama baik kalian.
PS: A good first step is to admit publicly that you’ve been an asshole and to apologize for deeply bothering the rest of the road users.
3 Komentar
wow! ide busuknya sungguh menggugah!
bahasan blognya menarik nih. boleh di link blognya?
Boleh silahkan. Terima kasih sudah mampir
gua rasa mereka gak tahu harus menggantungkan bola raksasanya di mana, jadi pikiran sederhana adalah dengan mengelindingkannya.
good opinion, salam